Monday, 17 February 2025

HURAIAN DARI TAFSIR IBN KATSIR - AYAT-AYAT TERPILIH

 huraian dari tafsir ibnu katsir :

1)  **2:177 - Kebajikan ialah termasuk ( beriman, derma harta pada kaum kerabat,  anak yatim dan miskin, orang meminta, solat , zakat, menepati janji, tabah dan sabar masa sempit, sakit . ini lah sifat orang bertaqwa dan iman

HURAIAN :    ( hadis sedekah infaq )

Firman Allah: wa aatal maala ‘alaa hubbiHi (“Dan memberikan harta yang dicintainya.”) Artinya, menyedekahkan hartanya padahal ia sangat mencintai dan menyenanginya. Demikian dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud, Sa’id bin Jubair, dan lainnya. Sebagimana telah diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, hadits marfu’ dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah engkau menyedekahkan harta sedang engkau dalam keadaan sehat lagi tamak, engkau menginginkan kekayaan dan takut miskin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan firman Allah Ta’ala yang berikutnya: dzawil qurbaa (“Kepada kerabatnya.”) Mereka ini lebih diutamakan untuk diberi sedekah, sebagaimana ditegaskan dalam hadits berikut ini: “Sedekah kepada orang-orang miskin itu hanya (berpahala satu) sedekah saja. Sedangkan sedekah kepada kerabat (berpahala) dua, yaitu sedekah dan silaturrahmi. Mereka itu orang yang paling utama untukmu dan untuk mendapatkan kebaikan serta pemberianmu.”

Wal yataamaa (“Anak-anak yatim.”) Yaitu mereka yang tidak mempunyai orang yang menafkahinya, dan ditinggal mati oleh ayahnya pada saat masih lemah, kecil, dan belum baligh serta belum mempunyai kemampuan untuk mencari nafkah.

Wal masaakiina (“Dan orang-orang miskin.”) Yaitu mereka yang tidak dapat memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Mereka ini harus diberi sedekah agar dapat menutupi kebutuhan dan kekurangannya.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang miskin itu bukanlah orang yang berjalan mengelilingi orang-orang, lalu memperoleh [dari meminta-minta] satu atau dua butir kurma, sesuap nasi atau dua suap makanan, tetapi orang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan kekayaan yang mencukupinya, serta tidak mendapatkan jalan untuk mem-perolehnya sehingga ia diberi sedekah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Was saa-iliina (“Orang orang yang meminta-minta.”) Mereka itu adalah orang yang tampak meminta, maka ia diberi zakat dan sedekah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Fatimah bin Husain, dari ayahnya, Abdur Rahman Husain bin Ali menceritakan, Rasulullah bersabda: “Orang yang meminta memiliki hak meskipun ia datang dengan menunggang kuda.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)





2) **2:186 - “Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintab)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

HURAIAN :   ( mutasyabihat - Allah dekat dengan hambaNya )

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia menceritakan, ketika kami bersama Rasulullah dalam suatu peperangan, kami tidak mendaki tanjakan, menaiki bukit, dan menuruni lembah melainkan dengan mengumandangkan takbir. Kemudian beliau mendekati kami dan bersabda, “Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Dzat yang tuli dan jauh. Tetapi kalian berdo’a kepada Rabb yang Mahamendengar lagi Mahamelihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepada seorang di antara kalian dari pada leher binatang tunggangannya. Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku ajari sebuah kalimat yang termasuk dari perbendaharaan surga? Yaitu: laa haula walaa quwwata illaa billaaHi (Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya karena pertolongan Allah).”

Hadits tersebut diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim serta beberapa periwayat lainnya, dari Abu Utsman an-Nahdi.

Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: Penguasa yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka, dan doa orang yang didhalimi. Allah akan menaikkan doanya tanpa terhalang awan mendung pada hari kiamat dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan Dia berfirman, ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti menolongmu meskipun beberapa saat lagi.’”





3) **2:243-245 - Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampong halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kamu,’ kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 243) Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesunggubnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. Al-Baqarah: 244) Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

HURAIAN :   ( penduduk lari dari wabak taun lalu dimati then dihidup )

Dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah: alam tara ilalladziina kharajuu min diyaariHim wa Hum uluufun hadzaral mauti (“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu jumlahnya karena takut mati,”) ia mengatakan, “Mereka berjumlah empat ribu orang. Mereka pergi untuk menghindarkan diri dari wabah tha’unMereka mengatakan, “Kami akan pergi ke daerah yang tidak ada kematian disana.” Dan ketika mereka sampai di suatu tempat, Allah Ta’ala berfirman kepada mereka, “Matilah kamu.” Maka mereka pun mati semuanya. Setelah itu ada seorang nabi yang melewati mereka. Ia berdo’a kepada Rabb-Nya agar Dia menghidupkan mereka. Kemudian Allah Ta’ala menghidupkan mereka. Dihidupkannya mereka kembali oleh Allah, mengandung pelajaran dan dalil yang pasti akan adanya kebangkitan jasmani pada hari kiamat kelak. Oleh karena itu Allah berfirman, innallaaHa dzuu fadlin ‘alannaasi (“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia.”) Yaitu karunia berupa diperlihatkannya tanda-tanda kekuasaan Allah yang jelas. Walaakinna aktsaran naasi laa yasykuruun (“Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”) Artinya, mereka tidak bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, baik nikmat agama maupun dunia.

Dalam kisah tersebut mengandung pelajaran dan dalil yang menunjukkan bahwa tindakan menghidarkan diri dari takdir itu sama sekali tidak berguna. Dan bahwasanya tidak ada tempat berlindung dari ketentuan Allah kecuali kepada-Nya. Karena mereka pergi dengan tujuan menghindarkan diri dari wabah penyakit untuk meraih kehidupan yang panjang, tetapi mereka mendapatkan kebalikan dari apa yang mereka tuju. Kematian mendatangi mereka dengan cepat dan dalam satu waktu.

Termasuk dalam pengertian ini adalah sebuah hadits shahih Yang diriwayatkan Imam Ahmad, bahwa Abdurrahman bin Auf memberitahu Umar bin Khaththab di Syam, Nabi bersabda: “Sesungguhnya penyakit ini dijadikan sebagai siksaan bagi umat-umat sebelum kalian. Jika kalian mendengarnya melanda di suatu daerah, maka janganlah memasuki daerah itu. Dan jika penyakit itu melanda di suatu daerah, sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar untuk menghindarinya.”

Ia menuturkan, kemudian Umar bin Khaththab pulang kembali Syam (tidak jadi memasuki wilayah Syam).





4) “(Yaitu) orang-orang yang berdo’a: ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka’. (QS. 3:16) (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menaf kahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. 3:17)

Surah Ali ‘Imraan ayat 16-17

HURAIAN :  (  istighfar sebelum subuh + Allah kabul doa waktu sebelum subuh )
Wal munfiqiina (“Yang menafkahkan hartanya.”) Yaitu mengeluarkan sebagian dari harta kekayaan mereka di jalan-jalan ketaatan yang diperintahkan kepada mereka, silaturahmi, membantu kaum kerabat, menutupi (mencukupi) kebutuhan, dan menolong orang yang sedang membutuhkan. Wal mustaghfiriina bil as-haar (“Dan yang memohon ampunan pada waktu sahur.”) Hal ini menunjukkan keutamaan istighfar pada waktu sahur. 

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan kitab-kitab lainnya telah disebutkan hadits yang menetapkan hal tersebut, dari sejumlah Sahabat, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Allah turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: ‘Adakah orang yang meminta, sehingga akan Aku beri? Adakah orang yang berdo’a sehingga Aku mengabulkannya? Dan adakah orang yang memohon ampunan sehingga Aku memberikan ampunan kepadanya?”‘

Dan di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim juga disebutkan sebuah hadits dari ‘Aisyah: “Pada setiap malam Rasulullah senantiasa mengerjakan shalat witir, pada awal malam, pertengahan malam, dan akhir malam, dan witirnya berakhir pada waktu sebelum fajar menyingsing.

Ibnu Mardawaih meniwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: “Kami diperintahkan jika kami shalat malam, agar kami beristighfar pada waktu akhir sahur sebanyak tujuh puluh kali.”





5) “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. 3:102). Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. 3:103) 

Surah Ali ‘Imraan ayat 102-103

HURAIAN : ("tali" agama Allah, zagqum akan binasa seluruh dunia )
Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, bahwa: “Ketika orang-orang sedang mengerjakan thawaf di Baitullah, Ibnu ‘Abbas sedang duduk dengan memegang tongkat, kemudian ia berkata, Rasululullah saw. bersabda: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu meninggal dunia melainkan kamu dalam keadaan Islam. Seandainya setetes zagqum jatuh ke dunia, maka ia akan merusak kehidupan penghuninya. Lalu bagaimana bagi orang yang tidak mempunyai makanan kecuali zaqqum?”

Dan firman-Nya, wa’tashimuu bihablillaaHi jamii’aw walaa tafarraquu (“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”) Ada yang berpendapat, “Kepada tali Allah” berarti kepada janji Allah sebagaimana yang difirmankan-Nya pada ayat setelahnya: dluribat ‘alaiHimudz dzillatu ainamaa tsuqifuu illaa bihablim minallaaHi wa hablim minannaasi (“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”) (QS. Ali-‘Imran: 112) Yakni dengan perjanjian dan perlindungan. Ada yang berpendapat, kepada tali Allah itu maksudnya adalah kepada al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Harits al-A’war, dari ‘Ali sebagai hadits marfu’, tentang sifat al-Qur’an: “Al-Qur’an itu adalah tali Allah yang paling kuat dan jalan-Nya yang lurus.”





6) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 3:130). Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. (QS. 3:131). Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. 3:132). Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS.3:133). (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134). Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:135). Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. 3:136)

HURAIAN :  (orang menahan amarah bebas memilih bidadari + keindahan syurga + Allah Maha Pengampun)

Hal seperti itu telah ditegaskan dalam hadits shahih: “Jika kalian memohon Surga kepada Allah, maka mintalah Surga Firdaus, karena ia adalah Surga yang paling tinggi dan paling tengah. Darinya mengalir sungai-sungai Surga, sedang atapnya adalah ‘Arsy ar-Rahmaan.”

Dalam Musnad Imam Ahmad telah diriwayatkan bahwa Heraclius pernah mengirimkan surat kepada Nabi, yang isinya: “Engkau telah mengajakku ke Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di mana letak Neraka?” Maka Nabi saw. pun menjawab: “Mahasuci Allah, lalu di mana malam jika siang telah tiba?” Maksudnya ialah, bahwa waktu siang itu jika telah me-nutupi permukaan bumi dari satu sisinya, maka malam berada di sisi yang lain. Demikian juga dengan Surga, yang berada di tempat yang paling tinggi, di atas langit dan di bawah ‘Arsy, dan luasnya seperti yang difirmankan-Nya,”Seluas langit dan bumi.” Sedangkan Neraka berada ditempat yang paling bawah. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara keluasan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan keberadaan Neraka. Wallahu a’lam.


Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah ar-raquub (orang yang mandul) itu?” Mereka men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai anak.” Beliau pun bersabda: “Bukan, tetapi ar-raquub adalah orang yang tidak mendapatkan manfaat (hasil apa pun) dari anaknya.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hishbah atau Ibnu AbiHushain, dari seseorang yang menyaksikan Nabi ketika beliau sedang ber-khutbah, beliau bersabda: “Tahukah kalian siapakah sha’luk (orang yang miskin) itu?” Para Sahabat men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai harta kekayaan.” Maka beliau pun bersabda: “Orang yang miskin adalah orang yang mempunyai harta lalu meninggal dunia, sedangkan ia tidak pernah memberikan sesuatu pun dari harta-nya tersebut.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Said bin Mu’adz bin Arias, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu untuk menumpahkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para pemimpin makhluk, lalu Allah memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia sukai.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah. bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang berbuat dosa lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan perbuatan dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Kemudian orang itu berbuat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Setelah itu ia berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’

Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberi hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu’. Kemudian orang itu ber-buat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabbku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah berfirman: `Hambaku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka ia pun boleh berbuat sesukanya (menurut ketentuan syariat).’” (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka).

  



7) 
















No comments:

Post a Comment

KITAB : APABILA RASULULLAH BERBICARA ( 22 KISAH HADIS MENGENAI PARA NABI DAN RASUL TERDAHULU )

  KITAB : APABILA RASULULLAH BERBICARA ( 22 KISAH HADIS MENGENAI PARA NABI DAN RASUL TERDAHULU )  PENULIS : USTAZ HJ JAFRI ABU BAKAR MAHMOOD...